30
57. Bahwa Baudrillard membagi ruang Simulakra menjadi tiga periode. Periode
pertama dimulai semenjak era Renaisance hingga revolusi industri dengan
ciri prinsip representasi. Dalam periode ini bahasa, objek, dan tanda adalah
tiruan dari realitas alamiah yang dibentuk secara linier dan tunggal sehingga
ia tetap masih memiliki jarak dengan objek aslinya. Simulakra periode kedua
lahir ditopang kemajuan teknologi reproduksi mekanik, prinsip komoditas dan
produksi massa. Sementara Simulakra Periode ketiga menurut Baudrillard
lahir karena konsekuensi perkembangan ilmu dan teknologi informasi
ditandai dengan hukum struktural. Tanda membentuk struktur dan memberi
makna realitas. Baudrillard menyebut periode ini sebagai Era Simulasi di
mana mekanisme simulasi terbangun melalui proses reproduksi obyek
dengan bantuan teknologi digital model-biner sehingga semua realitas
ditransformasikan ke dalam realitas kode digital dalam komputer.
58. Bahwa lebih lanjut, Baudrillard dalam tulisannya, Simulacra and Simulation
(1994) yang Pemohon kutip dari Tesis di atas telah mengemukakan bahwa
Simulakra adalah strategi penyamaran tanda dan citra (disguising), proses
penjungkirbalikan tanda yang menciptakan kekacauan, turbulensi dan
indeterminasi dalam dunia representasi dan pertandaan. Ia semacam mesin
yang memproduksi segala yang palsu (false), menyimpang dari rujukan
(referent), dengan menciptakan tanda sebagai topeng (mask), tabir,
kamuflase,
atau
fatamorgana.
Simulakra
politik
dimaknai
sebagai
penggunaan tanda dan citra dalam politik sehingga citra terputus dari realitas
yang direpresentasikan. Di dalamnya bercampur aduk antara yang asli/palsu,
realitas/fantasi, kenyataan/fatamorgana, citra/realitas, yang menggiring dunia
politik ke arah “penopengan realitas”. Pada titik ini, Pemohon meyakini,
femomena pemolesan citra diri para peserta pemilu secara berlebihan baik
dengan teknologi digital dan/atau teknologi Artificial Inteligence (AI) adalah
bukti nyata penggunaan Simulakra untuk mengecoh dan memanipulasi
Pemilih. Pemilih menjadi gagal mengidentifikasi fakta sebenarnya tentang
peserta pemilu, sebab antara citra diri dan fakta sebenarnya telah dilebur
dengan sengaja.
59. Bahwa pertanyaan hukum yang muncul selanjutnya adalah, apa relevansinya
konsep Simulakra Baudrillard dengan serangan terhadap independensi hak
Pilih? Bukankah hak pilih dipergunakan secara rahasia di ruang tertutup bilik
Select target paragraph3
Connect to a paragraph
Connect to an entity
Disable highlights
Add to table of contents